Home
|
Bali, December 2009 part 1 |
|
|
|
|
Kesampaian juga untuk travelling ke Bali setelah 2 tahun absen kesana. Kali ini pergi bersama keluarga besar. Cukup menyenangkan juga menghabiskan 5 hari 4 malam disana. Banyak tempat yang memang sepertinya sudah menjadi tujuan "wajib", namun pesona Bali memang tidak luntur. Selamat membaca reportase singkat ini.
Hari pertama, karena datang sore menggunakan Garuda dari Surabaya (sebelumnya gw sempat liburan di Surabaya dan Malang), tidak banyak kegiatan yang bisa gw lakukan selain hanya naruh barang di villa dan makan malam di Warung Made. Gw sekeluarga nginep di Grace Villa, Seminyak. www.gracevilla.com. Sangat tenang dan enak, dan kebetulan ownernya adalah teman bokap gw.
Warung Made sekarang sangat besar banget dan rata-rata isinya bule semua. Mungkin ini memang sudah jadi tujuan wajib bagi para turis. Harga nasi campur di Warung Made tergolong mahal, Rp 55,000 seporsi. Mungkin murah buat bule, namun bagi turis domestik ini cukup mahal.
Hari kedua, gw bangun cukup pagi karena perjalanan cukup panjang, pergi ke beberapa tempat di Ubud, Gianyar.
Sepanjang jalan, gw liat masih banyak bisnis furniture atau kerajinan tangan yang memang sih sekarang harganya mahal banget. walau begitu, tidak semahal kalau sudah dibawa ke Jakarta apalagi untuk tujuan export. Karena liburan, rasa lapar jadi lebih gampang menyerang..akhirnya berhenti sebentar di resto Ibu Oka. Makanan yang disajikan pasti sudah dikenal oleh banyak orang, yaitu nasi campur babi. Buat gw sih sebetulnya biasa aja, namun memang ada rasa khas tersendiri.
Setelah makan, mampir sebentar ke Goa Gajah, dimana ada juga air mancur yang katanya bisa memberikan rezeki. (gw gak terlalu dengerin guide-nya ngomong apa) tapi yg pasti banyak bule-bule yang ikutan cuci muka disitu. Goa Gajah ini menarik dari segi arsitekturnya, mungkin dalamnya memang tidak ada isinya, namun bangunan tua ini menyimpan banyak cerita dan sejarah.
Selanjutnya gw pergi ke tempat pemandian, yang gw lupa namanya apa. Tapi disana banyak orang lokal yang melakukan ritual pemandian (bathing ritual). Di tempat pemandian yang luas ini, banyak terdapat pohon2 besar yang keramat. Konon kabarnya, Presiden Soekarno memiliki tanah dibagian atas pemandian ini.
Baik di Goa Gajah dan di pemandian, memang banyak pedagang setempat yang mendirikan kios, dan kami juga berbelanja sebentar, gw sih beli gelang2 seharga Rp 10,000 dapat 3 dan odeng - ikat kepala Bali. That's it. Sebenarnya tidak perlu2 amat, tapi gw berharap dengan uang kecil itu, kebudayaan mereka tidak punah.
Cuma berfoto sebentar, kami pergi ke gunung Kintamani/ danau Batur. Hanya dari jauh mengambil foto pemandangan. Tidak ada yang terlalu istimewa. Sebenarnya gw pengen pergi ke Desa Trunyan, tapi guidenya melarang kami karena disana sudah tidak seperti dulu lagi, sudah menjadi modern sama seperti desa lain. Ini adalah dampak dari mobilisasi ekonomi dan pariwisata yang tidak dilindungi oleh pemerintah.
Di Bali, yang menarik adalah banyaknya anjing liar yang berkeliaran di semua tempat. Sepertinya memang tidak ada yang memelihara, kalau di Jakarta, rasanya lebih banyak kucing liar. Lucunya, gw sempet lihat anjing Kintamani liar yang kepalanya besar tapi badan-nya kecil. Lucu banget sih, dan sayangnya proses untuk membawa keluar anjing ini dari Bali cukup repot.
Dari daerah Batur, gw meluncur turun melihat beberapa tempat kerajinan yang membuat pahatan kayu jati dan bebek. Ternyata mahal banget, ada karya dari seniman Pak Wayan - bercerita soal Ramayana harganya Rp 1.5 milyar. Tapi emang bagus banget sih.
Kami juga mampir sebentar ke wisata Agro dimana kami dapat menikmati kopi Luwak dengan harga murah, Rp 10,000 per cangkir. Dan paling enaknya, di meja disediakan tembakau segar yang bisa dilinting sendiri.
Sempat juga gw mampir di Pasar Seni Sukawati, yang dari dulu rasanya tidak berubah banyak, baik dari segi harga maupun design-nya..dan tetap ramai.Harga sandal, kaos oblong, sarung, lukisan, pernak pernik kecil rata-rata harganya Rp 10,000. Gw gak bisa ngebayangin berapa cost produksinya. Seharusnya mereka bisa menjual barang-barang ini sedikit lebih mahal untuk meningkatkan taraf hidup dan juga mutu produknya. Yang gw takutkan adalah dengan harga yang murah ini, rata-rata pengrajin Bali akan pindah pekerjaan dan kehilangan budaya. Di pulau Jawa hal ini sudah sering terjadi, dari pembatik alih profesi menjadi pembantu RT.
Sepulang dari Pasar Sukawati, sempat kami menonton tari Kecak Api di daerah Renon. Karena memang hujan deras, pengunjungnya tidak banyak. Karcisnya cukup mahal karena indoor..Rp 80,000/pax, namun memang pertunjukan ini pantas mendapat harga yang lebih mahal. Cerita Rama-Shinta tidak pernah membosankan, apalagi Shinta-nya cukup cantik. Sayang sekali gw gak bawa lensa tele dan flash yang cukup mumpuni.
Dari sanggar tari Renon, kami sempat makan malam di Ayam Betutu. Rasanya sih ya..kayak ayam Betutu..lagipula resto ini yang menggunakan logo foto ownernya yang aneh bin ajaib itu sudah buka cabang di Wolter Mongsidi. Setelah kenyang, kami ke hotel, dan sebentar melepas lelah. Karena masih ada sisa energi, gw dan bini gw beserta adik2 yang masih muda memilih untuk melanjutkan perjalanan ke pantai Kuta. Penasaran bagaimana Kuta di malam hari. Masih seperti dulu, dimana Kuta Square semakin padat dan rame, Hard Rock yang pengunjungnya antri, ada Rave Party di kejauhan dan beberapa bule sedang bermain fireworks. Gw hanya duduk2 sebentar di pantai sambil menikmati bir Bali beli di Circle K yang jumlahnya bejibun di deretan Kuta. Tampaknya di Bali ini Circle K bersaing ketat dengan Mini Mart. Karena ini adalah bulan Desember, bulan liburan nasional..jadi memang di pantai terdengar banyak dialek Jakarta dan Suroboyoan... |
|
Last Updated ( Sunday, 03 January 2010 )
|
JoomlaStats Activation Module
|
|
|
|
|
|
Newsletter counter
|