Home arrow EcoNomy arrow Green Life & Carbon World arrow Green in daily life? Pake apa?
Green in daily life? Pake apa? PDF Print E-mail

Sebagai salah satu Carbon dan Environment Advisory di Indonesia, gw akhir2 ini sering berkutat dengan istilah2 yang lucu seperti CDM, CVA, Climate Change, Kyoto Protocol, RoadMap, dsb. Diantara semua data dan statistik yang njelimet dan meeting yang melelahkan, seringkali ada pertanyaan dari pihak end user yang seharusnya lebih bisa diakomodir oleh para pelaku bisnis dan pemerintah. Green World dan Climate Change ini bukan hanya sebatas mencari dana billion of dollar dari pihak asing, atau bagaimana implementasi dari policy, atau hutan mana or industri mana yang berhak mendapatkan CER, dsb. Climate Change sejatinya adalah di sekitar kita, dimulai dari diri sendiri dan hal simple.

Gini lho, pertanyaan yang paling mengganggu gw adalah:"pak, saya ingin bantu menghijaukan bumi ini dan mengurangi emisi, tapi kalo mau beli solar panel itu dimana ya?". ini gw gak bisa jawab karena solar panel yang gw bisa jual adalah solar panel bagi industri. Gw bisa jawab kalau pertanyaannya seputar hydro power plant or geothermal, tapi kalo ditanya soal dimana beli tongsampah, gw gak ngerti. Ini adalah kasus yang paling besar dan mengganggu gw.

 Percuma deh kalo pemerintah cuma ngurusin policy doank, pihak asing cuma nyari industri yang mau switching fuel or bangun power plant or carbon storage..masalahnya dunia tidak akan pernah berubah bila tidak dimulai dari masalah retail. Daripada pemerintah sibuk cari duit untuk bikin presentasi cari dana untuk program emission reduction, mendingan tiap 5 meter di trotoar dibuatkan tempat sampah. Ini tentu lebih membantu masalah polusi dan merupakan waste management paling jitu.

Melihat potensi pasar yang sangat besar, dan memang ajaib, gw ingin dalam waktu dekat mencoba mencari cara untuk terjun ke bisnis Green Retail Business/ Carbon Retail Business. Ini lebih efektif dan mengena. Percuma bicara CDM dan CVA kepada para bankers, business owner, direksi dan pejabat kalo dalam kesehariannya, buang sampah masih sembarangan dan penggunaan energy pribadi tidak berubah.

Saya salut dengan company2 yang sudah saya search di internet, untuk memulai menawarkan product mereka dengan harga yang sangat terjangkau. Mulai dari tong sampah, pengolahan kompos organik, biofuel, solar panel, dan alat penghemat listrik. Inilah yang dibutuhkan di Indonesia.

Gw gak bilang bahwa pemahaman orang Indonesia soal carbon kurang canggih, tapi justru realistis. Gw sekarang juga baru nyantol, ngapain bicara soal bali or Copenhagen or mexico kalo tiap hari juga masih pake kantong plastik kalo belanja.

kalo pembaca ada ide or masukan mengenai potensi bisnis environment friendly yang bener2 aplikatif dan menguntungkan. please contact me. i am open for discussion.

 

Ini kudu dibaca!

RocketTheme Joomla Templates