Home
Goal Seorang Entrepreneur PDF Print E-mail
Dalam kenyataan dan kehidupan sehari-hari, ternyata ada perbedaan nyata dan cukup keras antara mindset seorang pengusaha/ businessman/entrepreneur dengan seorang karyawan. Ini bukan masalah keamanaan dan kenyamanan yang cukup umum diketahui. Bagi para calon pengusaha, izinkan saya untuk sharing sedikit lebih jauh mengenai perbedaan Goal ini.

Sebagai karyawan, kita pasti di doktrin untuk menghasilkan result dan result, parameternya adalah closing. Jadi kita selalu di drive oleh target dalam bentuk materi. Ini gak salah, tapi harus mulai dirubah. Beda pegawai dan pengusaha adalah di masalah mental dan mindset. Businessman, percaya atau tidak, TIDAK PUNYA SPESIFIK TARGET. Selalu berubah dan flexible mengikuti alur. Karena mereka ga ngejar closing, goal dari businessman cuma 1 = realized gain dari opportunity. Kembali ke contoh Warren Buffett, dia mengutamakan PROSES untuk mencari saham yang undervalued dan melakukan strategy buy-hold sampai mencapai gain percentage yang signifikan. Tidak ada batasan dan peraturan yang menyebutkan bahwa Buffett harus loss or gain atau harus trading tiap hari.

 

Seorang Steve Jobb tidak menargetkan diri untuk menghasilkan ipod, iphone dan ipad. Dia melihat peluang dan mewujudkan peluang itu. Mark Zuckerberg juga tidak pernah punya target bahwa Facebook menjadi number one social network di Indonesia. Proses ini terjadi karena adanya kesempatan.

 

Bagi seorang business man atau entrepreneur, goal utama adalah menciptakan kesempatan atau opportunity ini. Selanjutnya adalah fokus dan berusaha dengan keras mencari gain atau profit dari opportunity yang sudah tercipta ini.

 

Berbeda dengan karyawan. Tiap bulan salesman selalu ada target. Manager pun punya target. Para karyawan harus memenuhi target karena terkait dengan KPI atau performance mereka dan ini berpengaruh terhadap Pangkat, Posisi dan Bonus mereka. Ada banyak tools yang bisa digunakan bagi seorang karyawan untuk memenuhi target, ada meeting, ada power lunch, ada dinner meeting, ada entertainment cost untuk client, ada seminar, ada training, ada presentasi, ada agreement, ada discount, ada iklan, ada promosi. Yah, namanya aja karyawan, sudah sewajarnya mereka memiliki target yang harus dipenuhi karena mereka digaji untuk itu.

 

Yang susah adalah karyawan yang ingin menjadi seorang entrepreneur, seringkali terjebak dengan budaya corporate yang mendewakan target dan bentuk dalam mewujudkan itu. Seringkali seorang karyawan sangat kaku (tidak luwes) dalam menjalankan usahanya. Essence dari businessnya justru tidak tercapai dan hanya melakukan kulit dari usaha itu sendiri. Pakai dasi, pakai jas, meeting sana-sini, entertain sana sini, golf, mobil mewah, jam tangan mahal...padahal Buffet sendiri gak punya laptop dan masih naik Ford Taurus tahun 90.

 

Jadi, para calon pengusaha yang budiman, tetap fokus kepada core dari business process itu sendiri. Jangan cari sibuk, jangan cari kerjaan, tapi cari duit dan profit. Lupakan hal ini itu, dan konsetrasi kepada penciptaan opportunity dan gain. Jangan membuat business process menjadi rumit dan malah bikin frustasi. Frustasi akan tidak tercapainya target adalah kegagalan utama. Ngomongin kesabaran memang gampang, tapi tidak mudah pada prakteknya. 

 

Saya punya kawan yang jago dan expert dalam coal trading, percaya atau tidak, dalam 3 tahun pertama, dia menikmati LOSS. Tapi dia tetap tekun dan konsentrasi. Akhirnya secara otomatis terbentuk mental baja dan mendapatkan opportunity. Profit dengan sendirinya akan mengikuti.

 

Misalnya Anda adalah seorang konsultan dan praktisi bisnis, atau mungkin ada baru saja membuka sebuah law firm. Percaya deh, hanya hoki atau mujizat bila Anda bisa mendapatkan case senilai $5 juta dalam tahun pertama. Jangan terjebak dengan target yg muluk. Anda bisa dapat case senilai Rp 100,000 saja sudah bagus, tapi opportunity yang Anda ciptakan selama tahun pertama ini lah target utama. Daripada ngejar $5 juta client, mendingan Anda melakukan sales approach ke 1000 customer di tahun pertama. 1% rate kesuksesan Anda akan membuahkan 10 client. Saya yakin, dari target 1000 client yang harus Anda approach, di client ke 200 Anda sudah cape dan pengen nyerah.

 

Kalau Anda pikir jadi pengusaha itu gampang, dan masih mikirin target yang muluk2. Saya sarankan kembali lemparkan cv Anda ke perusahaan. Company akan senang menyewa seorang yang target oriented. Dan ingat, rata-rata company pada umumnya tidak senang dengan pegawai yang punya aspirasi, dinilai tidak sesuai dengan budaya perusahaan.

 

Pengusaha tidak memiliki target tertentu. Tidak punya bentuk. Tidak ada dasar. Makanya para direktur dan manager kan seringkali ngomel, kenapa share holder itu sering karepe dewe atau bertindak semena-mena tanpa ada juntrungan yang jelas. Ini artinya, mindset Anda masih belum nyampe untuk mengerti opportunity yang bisa diciptakan oleh pengusaha/owner perusahaan. Pengusaha selalu melakukan experiment, trial dan error merupakan kunci utama, research dan development selalu menjadi pikiran utama. Bill Gates gak pernah mikirin tahun ini Microsoft harus jualan berapa, yang dia pikirikan gimana Windows 7 bisa lebih baik daripada Vista.

 

Ilmu diatas tidak bisa ditularkan. Ilmu diatas merupakan hasil dari pengalaman yang akan terbentuk dari diri pengusaha itu sendiri. Proses dan cara memang bisa berbeda, tapi intinya tetap sama.

 
Next >

JoomlaStats Activation Module

Ini kudu dibaca!

Add to Google

Langganan Newsletter

Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz

Berita Terkini

Kecanduan Blackberry: susah sembuh!

Halah! Emang sih rada ga penting, tapi fenomena kecanduan blackberry tuh bisa ditemukan dimana-mana. gw sendiri juga seorang pecandu blackberry, dan makanya dalam keseharian menggunakan dua BB. Alasan...
Read More ...

Goal Seorang Entrepreneur

Dalam kenyataan dan kehidupan sehari-hari, ternyata ada perbedaan nyata dan cukup keras antara mindset seorang pengusaha/ businessman/entrepreneur dengan seorang karyawan. Ini bukan masalah keamanaan ...
Read More ...

Bai Su Zhen

Gw ga pernah nyangka untuk nulis ini, cerita soal Bai Su Zhen yang benar2 sempat menjadi legenda dan trend di Indonesia tahun 93-94an. Saat itu konyolnya menggunakan dubbing "suamiku..istriku&quo...
Read More ...

Green in daily life? Pake apa?

Sebagai salah satu Carbon dan Environment Advisory di Indonesia, gw akhir2 ini sering berkutat dengan istilah2 yang lucu seperti CDM, CVA, Climate Change, Kyoto Protocol, RoadMap, dsb. Diantara semua ...
Read More ...

MENU BARU: green life & carbon world

Gw akan bikin submenu baru di EcoNomy, judulnya adalah GREEN LIFE dan CARBON WORLD. ini berkaitan dengan perusahan gw, Karbon Advisory dan kepedulian gw dengan Climate Change/Kyoto Protocol dan gimana...
Read More ...

Kalo pengen ikutan jadi member

Login
No account yet? Register
RocketTheme Joomla Templates